Rabu, 29 Juni 2011

proposal tesis penelitian kuantitatif

PENGARUH PENDEKATAN KONTEKSTUAL DAN KREATIVITAS 
TERHADAP KEMAMPUAN MEREPARASI VCD-DVD

TUGAS MATA KULIAH PENELITIAN KUANTITATIF
DOSEN PENGAMPU Prof.Dr.MULYOTO,M.Pd

OLEH:
MUDOYO
NIM.S811102018


PROGRAM TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNUVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2011


BAB I

                                                                  PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

          Tujuan pembelajaran yang dilakukan di sekolah-sekolah secara umum adalah untuk mentransfer ilmu dalam bentuk pengetahuan maupun keterampilan kepada peserta didik dengan melalui berbagai proses. Proses pembelajaran yang dilakukan dengan berbagai metode untuk mencapai tujuan tersebut tidak selalu cocok pada semua siswa. Penyebabnya bisa saja karena latar belakang pendidikan siswa, kebiasaan belajar, minat, sarana, lingkungan belajar, metode rnengajar guru, dan sebagainya.   
          Hampir semua mata pelajaran produktif yang diajarkan di SMK teknologi harus dilaksanakan dengan cara praktik secara langsung ke benda kerja untuk  tujuan  memberikan  keterampilan  sebagai  penerapan  teori  yang telah diajarkan sebelumnya. Dalam pelaksanaannya sangat banyak faktor pendukung yang akan ikut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Faktor-faktor pendukung tersebut antara lain berupa ketersediaan sarana dan prasarana praktek, kenyamanan belajar, lingkungan yang mendukung dan lain- lain. Semua itu bertujuan untuk memperkaya pengalaman belajar siswa.
           Kenyataan  yang  dihadapi  di lapangan  terkait  dengan  prestasi  siswa kelas XII Jurusan Teknik Audio-Video SMK Negeri 1 Madiun pada umumnya  mengalami  kesulitan  untuk  pencapaian  nilai  baik  pada  mata pelajaran Memperbaiki / Mereparasi VCD/DVD. Ketika ditanya tentang masalah kesulitan belajar. pada umumnya siswa memiliki jawaban yang sama tentang kesulitan belajar sistem kelistrikan, yaitu karena cara kerja rangkaian kelistrikan tidak bisa diamati secara kasat mata, tetapi melalui pengukuran dan pengujian.  Berbeda dengan  pelajaran  produktif  lainnya di  jurusan  otomotif yang secara umum bisa dipelajari dengan memperhatikan konstruksi dan mekanismenya. Sebagai contoh, untuk nilai rata-rata mata pelajaran Memperbaiki / Mereparasi VCD/DVD diperoleh siswa di dalam kelas itu adalah 6,00. Masih belum  mencapai  standar  minimal  kelulusan  yang  ditentukan,  yaitu  sebesar 7.00. Sedangkan mata pelajaran produktif yang lain bisa dicapai siswa dengan nilai rata-rata 7,50.
         Rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa dalam mata pelajaran tersebut dialas disebabkan oleh berbagai faktor. Antara lain kurangnya media yang memadai sebagai sarana praktik Memperbaiki / Mereparasi VCD/DVD, sehingga pembelajaran dalam bentuk pengalaman tidak cukup diperoleh siswa. Salah  satu  peluang  unluk  memberikan  pengalaman  kepada  siswa  adalah dengan  menggunakan  media  yang  bisa  menunjukkan  dengan  jelas  kepada siswa tentang cara kerja Memperbaiki / Mereparasi VCD/DVD dalam bentuk tayangan video maupun animasi. Cara ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang cara kerja tiap komponen pada rangkaian yang dipelajarinya.
         Memperbaiki / Mereparasi VCD/DVD ini untuk menambah keahlian pada siswa dimana teknologi saat ini menggunakan sistem digital dengan menggunakan program-program khusus yang sering disebut dengan software, sedangkan pada VCD/DVD Player mempunyai program permanen dimana kita bisa langsung menggunakannya tanpa menginstal terlebih dahulu. Begitu pula cara memperbaiki sebuah CD/DVD Player pada gejala-gejala yang sering kita jumpai seperti no dick, gambar tidak tampil, tidak ada suara, tombol-tombol tidak berfungsi, mekanik tidak bekerja, dan masih banyak lagi gejala yang akan terjadi. Dan pada dasarnya kerusakan tersebut  dikarenakan kerusakan pada komponen, koneksitas atau kabel, bagian mekanik, atau optic pembaca disk.
         Selain faktor pendekatan pembelajaran yang menjadi masalah dalam mempengaruhi keberhasilan siswa mengungkapkan informasi dalam berbagai bentuk memperbaiki/mereparasi VCD/DVD, ada faktor lainnya cukup berperan yang datang dari diri siswa sendiri, faktor itu adalah kreativitas siswa. Kreativitas merupakan proses yang dinamis pada diri seseorang (dalam hal ini siswa). Dengan kreativitas tinggi, siswa akan mampu menghasilkan beberapa pilihan atau alternatif atas masalah belajar yang dihadapinya. Selain itu, dengan kreativitasnya, siswa akan mampu mengubah dan memperkaya pola pemikirannya dengan penemuan-penemuan baru termasuk cara-cara dan gaya belajarnya, sehingga dengan kemampuan berpikirnya yang secara kreatif tersebut akan menimbulkan rasa kepuasan pada diri siswa sendiri.
         Dalam konteks pembelajaran memperbaiki/mereparasi VCD/DVD, khususnya mengembangkan kemampuan membenahi/ menservis komponen-komponen VCD/DVD, siswa memiliki kreativitas tinggi cenderung akan mampu mengatasi segala permasalahan belajar belajar yang dimiliki. Mengapa demikian? Karena siswa yang kreatif, akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan cara-cara yang tepat guna meraih keinginannya, termasuk keinginan dalam mencapai prestasi belajar yang terkait dengan kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD. Sebaliknya, siswa yang tidak/ kurang pasif, cenderung menerima apa adanya, tanpa tertantang untuk memikirkan bagaimanaa sebuah permasalahan bisa dicari solusi pemecahan dengan gaya sendiri.
         Berpijak pada apa yang telah dipaparkan di atas, dapat dinyatakan bahwa rendahnya kemampuan memperbaiki/mereparasi VCD/DVD siswa khususnya dalam memahami fungsi komponen-komponen VCD/DVD bisa dipengaruhi oleh (1) ketepatan guru dalam memilih pendekatan atau menggunakan metode, dan (2) kreativitas siswa. Dalam penelitian ini, peneliti menduga bahwa pendekatan Kontekstual dan kreativitas yang tinggi yang dimiliki siswa dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam mengembangkan kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD terutama memahami fungsi komponen-komponen VCD/DVD.
        Mengacu pada dugaan itu, dapatlah didentifikasikan beberapa permasalahan; (1) mengapa hasil kemampuan mengembangkan kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD siswa rendah? (2) faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan hasil kemampuan memahami fungsi komponen-komponen pada VCD/DVD rendah? (3) dapatkah hasil kemampuan memahami fungsi memahami komponen-komponen pada VCD/DVD yang rendah tersebut ditingkatkan? (4) upaya-upaya apa sajakah yang perlu ditempuh guru untuk meningkatkan hasil kemampuan mengembangkan kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD siswa? (5) apakah rendahnya hasil kemampuan mengembangkan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD siswa disebabkan oleh penggunaan pendekatan pembelajaran yang tidak tepat? (6) apakah pendekatan kontekstual yang digunakan dalam pembelajaran memperbaiki/mereparasi VCD/DVD benar-benar berpengaruh pada hasil kemampuan memahami fungsi komponen-komponen VCD/DVD siswa? (7) apakah kekurangberhasilan siswa dalam mencapai hasil kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD disebabkan oleh pendekatan pembelajaran yang kurang menarik? (8) pendekatan pembelajaran seperti pendekatan konvensional perlu diganti dengan pendekatan pembelajaran yang lain? (9) apakah dengan memperhitungkan dua faktor tersebut, yaitu pendekatan pembelajaran ( dalam hal ini pendekatan kontekstual) dan kreativitas siswa, hasil kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD siswa akan lebih meningkat? (10) pendekatan pembelajaran yang bagaimana yang dapat meningkatkan hasil kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD siswa? (11) apakah penggunaan pendekatan pembelajaran yang berbeda (dalam hal ini pendekatan Kontekstual dan Pendekatan Kontekstual) dapat mempengaruhi perbedaan hasil kemampuan memperbaiki/mereparasi VCD/DVD siswa? (12) apakah makin tepat penggunaan pendekatan pembelajaran (dalam hal ini pendekatan Kontekstual) yang digunakan guru dan adanya kreativitas siswa yang tinggi, makin baik pula hasil kemampuan memperbaiki/ mereparasi  VCD/DVD siswa.
         Pertanyaan-pertanyaan yang muncul tersebut tidak semuanya akan dijawab dalam penelitian ini karena beberapa keterbatasan, yakni waktu, dana, dan kemampuan peneliti yang tidak memungkinkan. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini hanya akan mengkaji perbedaan kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD yang dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran (kontekstual dan konvensional), dan perbedaan kreativitas (tinggi dan rendah). Kreativitas dalam penelitian ini dikhususkan pada kreativitas verbal.
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di ats, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.
Apakah perbedaan pengaruh pendekatan Kontekstual dan pendek atan Konvensional terhadap kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD siswa?
Apakah terdapat perbedaan pengaruh kreativitas tinggi dan rendah terhadap kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD siswa/
Apakah terdapat interaksi pendekatan pembelajaran dan kreativitas siswa dalam mempengaruhi kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD siswa/
Tujuan Penelitian
Penelitian ini mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Adapun kedua tujuan tersebut secara rinci diuraikan sebagai berikut.
Tujuan Umum
         Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh perbedaan penggunaan pendekatan kontekstual dan kreativitas siswa terhadap kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD siswa.
Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
Ada tidaknya perbedaan pengaruh pendekatan Kontekstual dan pendekatan Konvensional terhadap kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD siswa.
Ada tidaknya perbedaan pengaruh kreativitas tinggi dan rendah terhadap kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD siswa.
Ada tidaknya interaksi antara perbedaan antara pendekatan pembelajaran dan kreativitas siswa terhadap kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD siswa.
Manfaat penelitian
        Hasil penelitian ini memiliki beberapa manfaat, baik secara teoretis maupun secara praktis. Kedua jenis manfaat tersebut diuraikan sebagai berikut.
Manfaat Teoretis
           Secara teoretis, hasil penelitian ini dapat memberi kelengkapan khazanah teori yang berkaitan dengan pendekatan Kontekstual dan kreativitas siswa pengaruhnya terhadap kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD  siswa, Dengan mengetahui pengaruh kedua variabel-variabel itu terhadap kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD siswa.
Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh beberapa pihak, antara lain diuraikan sebagai berikut.
Bagi Siswa
         Bagi siswa penelitian eksperimen ini bermanfaat untuk mengetahui seberapa tinggi kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD, dan kreativitas mereka setelah penggunaan pendekatan kontekstual diterapkan oleh guru dalam pembelajaran.
Bagi guru
        Bagi guru mata pelajaran Elektronika di SMKN I Madiun, manfaat yang dapat dipetik melalui penelitian eksperimen ini adalah agar mereka dapat mengembangkan pembelajaran Elektronika, khususnya memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD secara tepat dengan menggunakan pendekatan kontekstual sehingga diharapkan hasil kemampuan memahami fungsi komponen-komponen VCD/DVD siswa dapat meningkat.
Bagi Kepala Sekolah
          Bagi kepala sekolah, manfaat penelitian eksperimen ini adalah sebagai masukan dalam rangka pengefektifan pembinaan pada guru agar dapat meningkatkan profesionalisme melalui peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dengan jalan melakukan penelitian semacam ini.




BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
Kajian Teori
         Pada Bab II ini ini dideskripsikan konsep-konsep atau teori-teori yang relevan dengan variabel penelitian yang diteliti, yaitu (1) teori yang berkaitan dengan kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD, (2) teori yang berkenaan dengan pendekatan pembelajaran, di dalamnya akan diuraikan pendekatan kontekstual dan konvensional, dan (3) teori yang berhubungan dengan kreativitas.
Hakikat Keterampilan Memperbaiki/ Mereparasi VCD/DVD
Pengertian  keterampilan
          Pada hakikatnya setiap manusia pasti memiliki kemampuan, potensi atau keterampilan yang dibawa sejak lahir. Keterampilan terus berproses sesuai dengan bertambahnya usia seseorang. Keterampilan diartikan sebagai pengetahuan, kemampuan, dan nilai-nilai dasar yang direfkeksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Depdiknas :2007) . Keterampilan yang dimaksud di sini adalah suatu kemampuan untuk mengeluarkan sumber daya internal atau bakat dalam diri seseorang yang dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Keterampilan digunakan untuk menyebutkan kemampuan individu yang berfungsi dalam lingkungan yang membutuhkan suatu usaha yang besifat kognitif. Keterampilan yaitu kemampuan untuk mengeluarkan semua sumber daya internal, keunggulan, dan bakat agar dapat mendatangkan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
           Hal senada juga diungkapkan oleh Ubaidilah (2002: 25) Keterampilan diartikan sebagai kemampuan  untuk melakukan sesuatu dengan tepat dan mahir. Berdasarkaan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan adalah suatu kekuatan yang memerlukan kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan tepat dan dapat diukur.


Pengertian Memperbaiki/ Mereparasi VDC/DVD
          Memperbaiki / Mereparasi VCD/DVD merupakan salah satu mata kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa jurusan teknik audio-video. Selain sebagai syarat untuk lulus dalam ujian, kompetensi ini harus dikuasai oleh siswa karena merupakan sistem utama yang akan menentukan apakah sebuah Player VCD/DVD bisa berfungsi atau tidak.
           Kesulitan yang paling umum pada proses pembelajaran Memperbaiki / Mereparasi VCD/DVD adalah memberikan pemahaman kepada siswa tentang proses kerja dan menunjukkan kapan dan dalam kondisi bagaimana masing- masing komponen pada rangkaian Memperbaiki / Mereparasi VCD/DVD akan mulai atau berhenti bekerja. Karena itu siswa jurusan teknik audio-video tidak boleh memiliki penguasaan yang lemah di dalam bidang sistem kelistrikan, khususnya Mereparasi VCD/DVD.
           Untuk mengatasi kondisi tersebut diatas, salah satu jalan keluar yang sangat mungkin bisa mempermudah dalam mengajar dan memperjelas konsep pemahaman kepada    siswa    adalah dengan    cara menggunakan media pembelajaran  yang bisa memperlihatkan  bagaimana jalannya  arus listrik di dalam rangkaian Player VCD/DVD. Dengan demikian, diharapkan siswa bisa dapat dengan lebih mudah menyerap penyampaian materi yang didukung oleh media yang bisa menunjukkan cara kerja komponen yang sulit diamati secara  kasat mata itu.
Hakikat pendekatan Pembelajaran
           Pendekatan merupakan seperangkat asumsi korelatif yang berhuhungan dengan sifat hahasa dan pembclajaran hahasa. Pendekatan bersifat aksiomatis, artinya teori-teori bahasa tidak perlu dihuktikan lagi kehenarannya karena sudah diyakini secara umum. Dalam pembelajaran bahasa, pendekatan merupakan dasar yang esensial, filsafat atau keyakinan tentang hakikat hahasa dan bagaimana belajar hahasa yang telah diyakini secara umum. Pendekatan menggambarkan sifat dari permasalahan utama yang akan diajarkan. Dalam model Anthony, pendekatan adalah tingkatan tempat asumsi mengenai bahasa dan pembelajaran bahasa dirumuskan (Anthony dalarn Richards and Rodgers, 1993: 15).
   Sedangkan Brown (2000: 9) memperjelas konsep pembelajaran dengan rnenambahkan kata kunci yang harus diperhatikan, yaitu 1) pembelajaran. Menyangkut hal praktis, 2) pembelajaran adalah penyimpanan informasi, 3) pembelajaran adalah penyusunan organisasi, 4) pembelajaran memerlukan keraktifanan dan kesadaran, 5) pembelajaran relative permanent, dan 6) pembelajaran adalah pencurahan tingkah laku.
   Dari uraian di atas, dapatlah dikatakan bahwa pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara siswa dcngan,, lingkungannya yang difasilitasi guru yang menyehabkan terjadi peruhahan perilaku ke arah, yang lebih baik sehingga dapat mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun peruhahan yang terjadi karena proses pembela.jaran memiliki sifat antara lain: perubahan itu terjadi secarra sadar, perubahan itu bersifat kontinu, perubahan itu bersifat positif, dan perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah.
Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kontekstual dan konvensional.
Pendekatan Konvensional
          Pendekatan kemtekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat huhungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kchidupan mcrcka schagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalarn bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil (Depdiknas, 2002 : 1).
        Dalam kaitannya dengan pembelajaran kontekstual, B1ancard (2001) mengembangkan strategi pembelajaran kontekstual dengan:
Menekankan pemecahan masalah,
Menyadari kebutuhan pengajaran dan pembelajaran yang terjadi dalam   berbagai konteks, seperti rumah, masyarakat dan pekerjaan,
Mengajar siswa memonitor dan mengarahkan pembelajaran mereka  sendiri   sehingga menjadi siswa mandiri,
 Mengaitkan pengajaran pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-  beda,
 Mendorong siswa belajar dari sesama teman dan belajar bersama, dan
 Menerapkan penilaian autentik (dalam Depdiknas, 2004 : 45)
Pendekatan Konvensional
Neil (1998:3) berpendapat berpendapat bahwa pendekatan konvensional lehih menekankan pada huhungan stimulus-respon yang teramati. Padahal penentuan tentang pendekatan apa yang akan dipergunakan harus berdasarrkan pada tujuan yang hendak dicapai.
Pada dasarnya tujuan pembelajaran konvensicmal akan mengarahkan terjadinya proses belujar pada siswa, dan merupakan proses perubahan perilaku yang relatif tetap berkat adanya pengalaman. Perubahan perilaku itu sebagai fungsi total dari kondisi lingkungan, akibat adanya latihan dan pengulangan-pengulangan- pengalaman. Pengalaman dalam proses belajar adalah interaksi antara individu dcrigan lingkungan, khususnya dengan lingkungan belajar.
Pendekatan konvensional biasanya bersifat rutin dan fomal. Kegiatan utarna pengajar adalah memberikan pelajaran secara lisan dengan mengandalkan metode ceramah, dan sesekali mengadakan demonstrasi. Pengajar hersikap kaku sehingga sedikit sekali memberikan kesempatan pada siswanya untuk bertukar pendapat dengannya. Pengajar menjadi pusat segalanya, memiliki tanggung jawab dan wewenang untuk menentukan semua urusan kelas. Hubungan pengajar dengan siswa kaku tidak personal.
 Berdasarkan uraian di atas, secara ringkas perbedaan antara pendekatan kontekstual dan konvensional dapat dijelaskan sebagai berikut.
Tabel 1. Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Konvensional

No    Kontekstual    No    Konvensional     
1    Tujuan pembelajaran adalah untuk memberdayakan siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga perubahan tingkah laku yang dialami siswa dalam proses pembelajaran relatif selalu berubah-ubah bergantung pada kemampuan piker atau potensinya.    1     Tujuan pembelajaran lebih mengarah pada terjadinya proses perubahan tingkah laku yang relatif tetap berkat adanya pengalaman yang diterima siswa dari gurunya.     
2    Pembelajaran bersifat integratif (terpadu) dengan jalan mengajukan aspek bahasa/ketrampilan bahasa dengan dunia nyata siswa untuk memperoleh suatu hal yang baru.    2    Pembelajaran berlangsung terpilah-pilah dengan pembahasan topik atau pokok-pokok bahasan bagian demi bagian sehinggga tidak menunjukan ada keterjalinan di antara unsure-unsur bahasan itu.     
3    Dalam pembelajaran, siswa dilatih untuk meningkatkan kemampuannya dalam memecahkan masalah melalui inkuiri, ekpresi kreatif melalui konstruksi pengetahuan yang dimiliki, empati dalam kegiatan dan hubungan sosial atau kerja kelompok bersama.     3    Dalam pembelajaran, siswa tidak dilatih memecahkan masalah. Mereka sekedar menerima dari gurunya sehingga siswa hanya bersifat reseptif pasif, rasa simpatik dan empatik dalam hubungan sosial tidak terlalu terbina.     
4    Siswa sebagai individu maupun dalam kelompok dapat menimbulkan ide-ide dan produk baru dalam berbagai hal karena mereka diberikan kesempatan optimal untuk menemukan sendiri, bukan menerima dari gurunya.     4    Sebagai individu, siswa kurang mandiri dan terlatih pikirannya sehingga ia tidak mampu menciptakan sesuatu yang baru.      
5    Dalam pembelajaran, matra emosional dan psikomotorik lebih penting daripada matra intelektual.    5    Dalam pembelajaran, matra intelektual lebih penting daripada matra emosional.     
6    Dalam pembelajaran, siswa dituntut untuk mampu menerapkan secara nyata terhadap ide atau objek  yang dipelajari.    6    Dalam pembelajaran, siswa dituntut untuk mengingat/menghafal terhadap ide atau objek yang dipelajari sehingga rasa empati tidak dimiliki.      
7    Kegiatan pembelajaran terfokus pada siswa.    7    Kegiatan pembelajaran terfokus pada guru.     
8    Dalam kegiatan belajar-mengajar siswa harus aktif. Ekspresif, produktif, reaktif, dan responsive melalui kerja kelompok (diskusi kelompok).    8    Dalam pembelajaran, siswa hanya duduk sambil mendengarkan ceramah dari guru, tanya jawab, dan mencatat.     
9    Interaksi pembelajaran berjalan sangat hidup, baik antara siswa dengan siswa, maupun guru dengan siswa.    9    Interaksi pembelajaran hanya terjadi dalam tanya jawab antara siswa dengan guru, setelah guru berceramah.     
10    Siswa lebih banyak diberi pelatihan-pelatihan yang menuntut siswa berpikir kritis-kreatif  dan kerja keras dalam kelompok diskusi.    10    Siswa lebih banyak menerima teori dari gurunya dan kurang adanya latihan.     
11    Materi pembelajaran didasarkan atas kebutuhan siswa.    11    Materi pembelajaran didasarkan pada urutan materi pelajaran dan ditentukan oleh guru     
12    Pembelajaran lebih menitikberatkan kepada perbedaan daripada persamaan diantara siswa.     12    Pembelajaran lebih menitikberatkan kepada persamaan daripada perbedaan diantara siswa.    

3.   Hakikat Kreativitas
Kreativitas dibutuhkan dalam memecahkan masalah yang bersifat di verger sebagaimana yang dikatakan oleh Santrock (1988: 273), kreativitas adalah kemampuan untuk berpikir tentang sesuatu dengan cara yang baru dan tidak umum untuk dapat menemukan pemecahan masalah yang unik. Menurut Santrock pada tingkatan tertentu intelegensi dibutuhkan untuk dapat kreatif namun orang-orang yang sangat tinggi tingkat intelegensinya bukanlah orang-orang yang sangat kreatif.
Kreativitas merupakan sumber pengertian pusat dalam kehidupan kita. Faktor kreativitas inilah yang membedakan manusia dengan simpanse, karena berkat kreativitas manusia memiliki bahasa, nilai, ekspresi keilmiahan, pemahaman ilmu, teknologi dan hal penting dan hal menarik lainnya diperoleh melalui proses pembelajaran, dan penambahan kekayaan dan kekompleksan untuk masa depannya (Csikszentmihalyi, 1996: 1-2).
Hurlock (1978) dan  Rogers (1982) mendefinisikan kreativitas sebagai suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, entah berupa gagasan, atau objek dalam bentuk susunan yang baru. Sementara itu, Rogers merumuskan proses kreatif sebagai kemunculan tindakan berupa produk baru melalui keunikan individu di satu pihak, dan dari kejadian, orang-orang, dan keadaan hidupnya di lain pihak (dalam Utami Munandar, 1988: 2-3).
Kreativitas sebagai kemampuan mengandung ciri kognitif, afektif, dan motorik. Sehubungan dengan berpikir kreatif atau berpikir divergen, Guillford (1968: 34) mengemukakan bahwa informasi yang dapat diperoleh kembali melibatkan dua jenis operasi yaitu produksi konvergen atau produksi divergen. Produksi kovergen meliputi pencarian infarmasi yang spesifik untuk memecahkan persoalan yang menuntut satu jawaban yang benar. Produksi divergen dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan yang dapat dijawab dengan berbagai cara yang dapat diterima. Guillford menemukan lima sifat yang menjadi ciri kemampuan berpikir kreatif, yaitu (1) kelancaran (fluency), (2) keluwesan (flexibility) (3) orisinalitas (Hriginilaity), (4) elaborasi (elaboration), dan (4) perumusan kembali (redefinition),
Konsep kreativitas dapat disimpulkan sebagai kemampuan, kesanggupan, atau kekuatan yang mencerminkan kelancaran kata, ide, asosiasi, ekspresi keluwesan (spontan, adaptif) keaslian (ungkapan baru, ungkapan unik, kombinasi ungkapan baru dan tidak lazim/ unik, penggunaan judul unik/tak lazim, penggunaan isi unik/ tak lazim, penggunaan ide unik/ tak lazim) dan keterincian (akibat, kemungkinan pekerjaan, dan sketsa) suatu gagasan. Kemampuan kreatif biasanya diakui dan diterima dalam arti memiliki manfaat bagi yang lain.
B. Kerangka Berpikir
1.    Perbedaan    Pengaruh    Pendekatan    Kontekstual    dan    Konvensional terhadap Kemampuan Memperbaiki/Mereparasi VCD/DVD
Kegiatan memperbaiki/memperbaiki VCD/DVD pada dasarnya berhubungan pada tiga keterampilan kebahasaan yang lain, yaitu menyimak, berbicara, dan membaca. Keterampilan memperbaiki/mereparasi VCD/DVD merupakan kemampuan seseorang dalam mempraktikkan penggunaan komponen-komponen VCD/DVD. Kemampuan siswa dalam memperbaiki/mereparasi merupakan cerminan kesanggupan atau kemahiran siswa dalam mempraktikkan cara kerja komponen-komponen VCD/DVD. Kemampuan tersebut terukur melalui kesanggupan Siswa dalam mengembangkan pembuatan  rangkaian -rangkaian  cara kerja komponen-komponen, fungsi optik, mekanik empek, dan power suply.







                                           
                                       Gambar. 1 Alur Berfikir

Pembelajaran memperbaiki/mereparasi VCD/DVD yang dilaksanakan dengan pendekatan kontekstual akan mempengaruhi kemampuan menulis siswa. Artinya, siswa yang diajar dengan pendekatan kontekstual, kemampuan mengembangkan kemampaun memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD lebih baik daripada yang diajar dengan menggunakan pendekatan konvensional.
2.    Perbedaan    Pengaruh    Kreativitas   Tinggi    dan    Kreativitas    Rendah Terhadap Kemampuan  Memperbaiki/Mereparasi VCD/DVD
Siswa yang memiliki kreativitas tinggi cenderung lebih luwes (fleksibel), lancar, mandiri, berpikir orisinil dan mendasar, elaboratif (berpikir secara rinci) dan realistis dalam menanggapi gagasan atau menghadapi tantangan. Sifat-sifat dan sikap seperti itu sangat dibutuhkan dalam kegiatan belajar-mengajar agar prestasi belajar yang terkait dengan kemampuan memperbaiki / mereparasi VCD/DVD  menjadi lebih baik.
Diduga, siswa yang memiliki kreativitas tinggi, kemampuan menulisnya juga tinggi daripada siswa yang kreativitasnya rendah. Artinya, siswa yang memiliki kreativitas tinggi, diduga kemampuan menulisnya lebih baik daripada yang memiliki kreativitas rendah.
3.    Interaksi antara Pendekatan Pembelajaran dan Kreativitas Siswa dalam Mempengaruhi Kemampuan Memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD
Interaksi diartikan sebagai gejala yang berbeda dari perlakuan utama sekiranya variabel-variabel utama tersebut diintervensi oleh variabel yang lain. Dalam penelitian ini akan dilihat gejala yang berbeda dari pendekatan kontekstual dan pendekatan konvensional dengan kreativitas tinggi dan rendah. Seberapa besar perbedaan antara semua kelompok siswa tersebut yang terdiri atas kelompok siswa dengan kreativitas tinggi diajar dengan pendekatan kontekstual, kelompok siswa dengan kreativitas tinggi diajar dengan pendekatan konvensional, kelompok siswa dengan kreativitas rendah diajar dengan pendekatan kontekstual, kelompok siswa dengan kreativitas rendah diajar dengan pendekatan konvensional.
D. Pengajuan Hipotesis
Atas dasar kajian teori kerangka berpikir di atas maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
Terdapat    perbedaan   pengaruh   pendekatan   kontekstual   dan   pendekatan konvensional terhadap kemampuan memperbaiki/ mereparasi VCD/DVD,
Terdapat   perbedaan   pengaruh   kreativitas   tinggi   dan   rendah   terhadap kemampuan memperbaiki/mereparasi VCD/DVD,
Terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan kreativitas terhadap kemampuan memperbaiki/ mereparasi siswa.














BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Madiun dan SMK Negeri 3 Madiun. Perlakuan penelitian dilakukan pada siswa kelas XII semester satu tahun akademik 2011/2012.
Tabel 1. Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian

Kegiatan    Juli
 2011    Agustus
2011    September
2011    Oktober
 2011    November
2011    Desember
2011     
     1    2    3    4    1    2    3    4    1    2    3    4    1    2    3    4    1    2    3    4    1    2    3    4     
Perbaikan proposal    x    x    x    x                                                                                     
Pengembangan instrumen                x    x    x                                                                             
Perijinan Penelitian                    x    x    x    x                                                                     
Ujicoba Instrumen                                    x    x    x                                                         
Pengumpulan Data                                            x    x    x    x                                             
Pengolahan atau Analisis Data                                                    x    x    x    x    x    x                             
Penyusunan Laporan Hasil Penelitian                                                                    x    x    x    x    x    x    x    x    

B.  Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode eksperimen dengan rancangan faktorial 2 x 2.
Subjek penelitian ini dibagi atas dua kelompok secara acak dengan membagi kelompok berdasarkan kelas, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok pembanding. Kelompok eksperimen diajar dengan pendekatan kontekstual, yang menerapkan urutan langkah-langkah kegiatan pembelajaran sesuai dengan penjabaran pendekatan kontekstual. Kelompok pembanding diajar dengan pendekatan konvensional. Kelompok kelas eksperimen dilakukan di kelas XII SMKN 1 Madiun, sedangkan kelompok kelas pembanding adalah siswa kelas XII SMK Gamaliel 1 Madiun.
Desain penelitian yang digunakan ialah eksperimen dengan rancangan faktorial 2x2 (Nunan, 1992: 141) terlihat pada gambar berikut:

        Pendekatan Pembelajaran (A)     
        Kontekstual (1)    Konvensional (2)     
Kreativitas (B)    Tinggi (1)    A1 B1    A2 B1     
     Rendah (2)    A1 B2    A2 B2     
    Total             

Keterangan:
A I    :     Kelompok siswa yang diajar dengan pendekatan Kontekstual
A.,    :     Kelompok siswa yang diajar dengan pendekalan Konvensional
B,    :     Kelompok siswa yang memiliki kreativitas linggi
B2     :     Kelompok siswa yang memiliki kreativitas rendah
A,n    :     Kelompok siswa yang diajar dengan pendekatan Kontekstual untuk siswa yang memiliki krealivitas tinggi
A2B    :    Kelompok  siswa  yang diajar dengan  pendekatan  Konvensional  untuk  siswa yang memiliki krcativitas tinggi
A,B2     :    Kelompok siswa yang diajar dengan pendekatan Kontekstual untuk siswa yang memiliki kreativitas rendah
AjB2    :     Kelompok siswa yang diajar dengan pendekatan Konvensioanul unluk siswa yang memiliki kreativitas rendah
Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel
Sesuai rancangan di atas, maka variabel-variabel penelitian disini dapat dideskripsikan (1) variabel bebas, terdiri dari pendekatan pembelajaran dan kreativitas. Pendekatan pembelajaran terdiri dari (a) pendekatan Kontekstual dan (b) pendekatan Konvensional. Kreativitas siswa yang dibedakan (a) kreativitas tinggi dan (b) kreativitas rendah; dan variabel terikat, yakni kemampuan menulis pantun dan dongeng.
Secara operasional variabel kemampuan menulis dan kreativitas dapat didefinisikan sebagai berikut :
Kemampuan memperbaiki/mereparasi VCD/DVD adalah skor yang diperoleh siswa setelah mengikuti test keterampilan  memperbaiki/mereparasi VCD/DVD.  Skor  ini  merupakan  cerminan  keterampilan  siswa tentang hal-hal yang berhubungan dengan memperbaiki/ memperbaiki VCD/DVD yang baik dan benar. Hal ini dapat diukur melalui: (a) pemasangan mekanik, (b) pemasangan optik, (c) pengontrolan  tegangan, (d) pengukuran sinyal video, dan (e) pengetesan pemasangan
Kreativitas disini adalah kemampuan siswa dalam berpikir secara divergen dengan  menggunakan  kata-kata verbal  sebagai aktualisasi  pemikirannya. Kemampuan ini tergambar setelah siswa mampu menyelesaikan tes kreativitas yang diujikan oleh peneliti dengan indikator (l) mampu rnenyusun permulaan VCD/DVD, (2) menyusun rangkaian, (3) membentuk rangkaian VCD/DVD, (4) sifat-sifat yang sama, (5) macam-macam penggunaan, dan (6) apa akibatnya.
Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi penelitian yang menjadi sasaran penelitian adalah siswa SMK  Negeri 1 Madiun. Adapun sampel penelitian ini diambil dengan multistage cluster random sampling. Adapun tahapan pengambilannya dilakukan dengan langkah-langkah:
Tahap pertama, mengacak secara kelompok dua SMK 1 Negeri dari jumlah semua SMK  Negeri di  Wilayah  Madiun. Dari  langkah  ini terambil secara random SMK Negeri 1 Madiun dan SMK Gamaliel 1Madiun. SMK Negeri 1 Madiun ditetapkan   sebagai   kelas   eksperimen   dan   SMK  Gamaliel 1Madiun sebagai kelas pembanding.
Tahapan kedua, menentukan secara acak kelas XII dari dua SMK  yang telah terpilih pada langkah pertama, yang dikenakan sebagai kelompok yang akan diberi perlakuan. Dalam tahapan ini terambil secara random kelas XII Teknik Audio-Video SMK Negeri 1 Madiun sebagai kelas eksperimen dan kelas XII Teknik Audio-Video SMK Gamaliel 1 Madiun sebagai kelas pembanding.
Dalam rancangan tersebut jumlah sampel seluruhnya 80 siswa, terdiri 40 siswa sebagai kelompok eksperimen dengan pendekatan kontekstual dan 40 siswa sebagai kelompok pembanding dengan pendekatan konvensional. Tiap-tiap sel pada kelompok eksperimen maupun pembanding, terisi sejumlah responden siswa dengan kategori kreativitas yang dimiliki. Berdasarkan tes kreativitas, jumlah siswa yang mengisi setiap sel pada rancangan 2x2 eksperimen ini dapat digambarkan pada tabel berikut :


        Pendekatan Pembelajaran (A)    Total     
        Kontekstual (1)    Kontekstual (2)          
Kreativitas (B)    
     Tinggi    (1)    20    20    40     
     Rendah (2)    20    20    40     
     Total             40    40    80    

Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu (1) tes kemampuan menulis yaitu merupakan tes untuk mengetahui seberapa terampil siswa menuangkan pengalaman atau perasaannya ke dalam bahasa tulis. Indikator yang digunakan untuk mengukur keterampilan menulis ini menunjuk pada komponen tujuan pengajaran menulis menurut kurikulum KTSP; dan (2) tes kreativitas diujikan terlebih dahulu sebelum eksperimen dilaksanakan untuk menetapkan siswa yang memiliki kreativitas tinggi dan rendah yang nantinya akan ditempatkan pada dua kelompok perlakuan yaitu kelompok eksperimen dan pembanding.

Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Validitas tes kemampuan mengembangkan kemampuan menulis siswa, berhubung tesnya berupa uraian (dalam hal ini berwujud tes perbuatan siswa menulis pantun atau dongeng), maka validitas tidak diuji secara empiris dengan perangkat statistik sebab tes ini memang tidak untuk mengetahui validitas butir tes, melainkan cukup hanya dengan validitas teoretis/konseptual (validitas konstruk) dengan menecermati indikator apa yang diukur dalam tes itu. Demikian pula untuk tes kreativitas, selain uji validitas, reliabilitas pun juga tidak dilakukan secara empirik pada tes kerativitas tersebut. Uji validitas hanya dilaksanakan dengan validitas konstruk (construct validity). Artinya, validitas diuji dengan mcngacu pada teori-teori yang digunakan. Apakah indikator-indikator yang dijabarkan dari definisi konseptual kreativitas sudah mengukur tentang kreativitas itu sendiri. Bila dicermati jabaran indikator telah sesuai dengan konsep teori kreativitas, maka tes kreativitas tersebut dianggap valid. Pertimbangan lain, dalam tess kreativitas responden memang diminta menjawab soal dengan jawaban sebanyak mungkin. Jawaban yang banyak dari setiap nomor soal itulah yang mencerminkan tingkat krealivitas mereka. Jadi, disini peneliti tidak perlu membuang sebagian soal tersebut atas dasar didrop (tidak valid) karena perhitungan statistik.
Sementara itu, untuk mengukur tingkat realiabilitas butir tes kemampuan mengembangkan paragraf digunakan rumus statistik reliabilitas ratings sebagai berikut:
Keterangan:

     :     Koefisien reliabilitas rating dari seorang rater
     :    Varians antar subjek, Mks
     :  varians residu, varians interaksi subjek (s) dan raters (t), yaitu Mk,s banyaknya raters
(Syaiful Anwar, 2005: 44)
Pelaksanaan dan Prosedur Perlakuan
Dalam pelaksanaan penelitian, peneliti membedakan perlakuan terhadap kelas eksperimen dengan kelas pembanding. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Perlakuan pada kelas eksperimen
Subjek penelilian yang dikelompokkan dalam kelas eksperimen diberikan pada pcrlakuan sebanyak 12 kali pertemuan. Materi-materi yang diberikan berdasarkan beberapa tahap yang biasa digunakan dalam pembelajaran kontekstual.
2.   Perlakuan pada kelas pembanding
Subjek penelitian yang dikelompokkan dalam kelas pembanding sama sekali tidak diberikan perlakuan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Materi yang diberikan sama dengan materi yang diajarkan seperti pada kelas eksperimen, tetapi menggunakan pendekatan Konvensional.

H. Teknik Analisa Data
Tujuan analisis data adalah untuk mengolah data agar hasil penelitian atau simpulan dapat dipercaya kebenarannya. Penelitian ini bersifat kuantitatif, maka analisis yang digunakan adalah analisis statistik.
Analisis data dalam penelitian ini menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif meliputi pendeskripsian tendensi sentral, seperti pendeskripsian harga rata-rata (mean); modus, median, varians, simpangan baku (standard deviasi). Selain itu juga distribusi frekuensi nilai beserta histogramnya.
2.    Uji Persyaratan
Sebelum analisis secara inferensial untuk pengujian hipotesis dilakukan, data-data yang telah dikumpulkan perlu diuji kelayakannya agar memenuhi uji persyaratan yang melipuli a) uji normalitas dengan tcknik Lillifors, untuk menguji data tersebut memiliki sebaran normal atau tidak dan b) uji hornogenitas dengan tcknik Bartlett, untuk rnenguji kesamaan varians antara dua kelompok yang dibandingkan. Kedua uji persyaratan ini dilakukan pada masing-masing kolorn, baris dan masing-masing sel.
3.   Analisis Data secara Inferensial
Analisis data inferensial dimaksudkan untuk keperluan pengujian hipotesis. Teknik analisis data yang dipakai adalah teknik statistik ANAVA (Analisis Variances) dua jalan.
I.    Hipotesis Statistik
Untuk menguji hipotesis nol (H0), hipotesis statistik dirumuskan sebagai berikut:
Hipotesis Pertama
H0 : µA1 ≤ µA2
H1 : µ A1 > µ A2
Hipotesis Kedua
H0 : µA1 ≤ µB2
H1 : µ > µ B2
Hipotesis Ketiga
H0 : A X B = 0
H1 : A X B > 0
Keterangan
A      :     Pendekatan Pembelajaran
B      :     Kreativitas
µA1     : Rerata skor kemampuan menulis pantun dan dongeng untuk kelompok siswa yang diajar dengan pendekatan kontekstual
u A2     :     Rerata skor kemampuan menulis pantun dan dongeng untuk kelompok siswa yang diajar dengan pendekatan konvensional
µ B1    : Rerata skor kemampuan menulis pantun dan dongeng untuk kelompok siswa yang memiliki kreativitas berprestasi tinggi.
µ B1        : Rerata skor kemampuan mengapresiasi prosa fiksi untuk kelompok siswa yang memiliki kreativitas berprestasi rendah.
A X B :     Interaksi antara pendekatan pembelajaran dan motivasi berprestasi.

















DAFTAR PUSTAKA

Brown, h. Douglas. 2000. Principles of Language Learning anil Teaching. New Jersey: Prentice Hall, Englwood Cliff.
Brown, h. Douglas. 2000. Principles of Language Learning anil Teaching. New Jersey: Prentice Hall, Englwood Cliff.
Depdiknas. 2002a. Pendekatan Kontektsual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Ditjen Dikdasmen.
________.   2002b.   Pembinaan  dan  Pengemhangan  Klub  Bakat,   Minat  dan
Kreativitas Siswa Sekolah Menengah. Jakarta: Ditjen Dikdasmen.
________. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Mata Pelajaran
Guillford. J.P. 1968. Intelligence. Creativity and Their Educational Implication. San Diego, California: R.R. Knapp.
Hurlock, Elizabeth. 1997. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Neil, Harold. F.O.1998. Learning Strategies. New York: Academic Press, Inc.
Sabarti, Akhadiyah. 2001. Menulis I. Buku Materi Pokok. Jakarta: Pusat Pembinaan Universitas Terbuka.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar